Siswa membuka hasil batik shibori karyanya. (Dok.mul)

Bantul (MTsN 2 Bantul) – Berasal dari Bahasa Jepang, kata Shibori berasal dari kata “Shiboru”, yang berarti teknik pewarnaan kain yang melibatkan penggabungan dan pewarnaan. Pola yang dihasilkan seringkali sedikit berbeda dengan batik tulis dan juga batik cap. Dalam praktiknya, batik shibori pelaksanaannya lebih sederhana dan mudah.  Tak heran kain jenis ini sering disebut “batik” di Jepang. Teknik Shibori ini konon sudah digunakan oleh Kekaisaran Jepang pada tahun beberapa ratus tahun yang lalu.

Siswa siswi MTsN 2 Bantul mempratkikan membatik teknik shiboridalam pelajaran prakarya. Selain batik shibori MTsN 2 Bantul juga sudah mencoba berbagai teknik membatik yang hasilnya tidak kalah dengan batik yang ada di pasaran. Mulyorejoso selaku pengampu mata pelajaran prakarya ini menularkan keilmuan yang diperolehnya ke siswa.

Dalam praktinya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian kelompok-kelompok siswa tersebut diberikan lembaran kain. Dengan telaten dan ulet Mulyo membimbing siswa mulai dari proses awal  yakni melipat, mengikat, memlintir dan juga menekan kain sesuai dengan pola yang diinginkan. Kemudian pola-pola tersebut diikat dengan karet gelang, bisa juga diisi dengan kelereng, pralon dan barang lainnya.

Setelah pola selesai dibentuk kemudian kain-kain tersebut dicelup dengan remasol dan waterglass. Kemudian kain siap dicelup dengan warna warni yang beragam. Proses ini harus dilakukan secara berhati-hati agar warna dapat nyerap dengan sempurna. “Siswa kami ajak untuk membuat batik shibori, agar bisa menambah keterampilannya. Kreasi anak tak kalah dengan batik-batik yang ada di luar,” ungkap Mulyo. (dee)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.