Pelaksanaan Workshop & Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka di Lab IPA MTsN 2 Bantul. (dok:nfa)

Pelaksanaan Workshop & Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka di Lab IPA MTsN 2 Bantul. (dok:nfa)

Bantul (MTsN 2 Bantul)-Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah mengacu pada 2 hal, yaitu:1. KMA Nomor 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum  Merdeka Pada Madrasah, 2. Kep. Mendikbudristek No. 262/M/2022 tentang Perubahan atas Kep. Mendikbudristek No. 56/M/Tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran. Untuk mempersiapkan hal itu, Rabu (8/2/2023), MTsN 2 Bantul menggelar Workshop dan Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka. Kegiatan dilaksanakan di Lab IPA MTsN 2 dari pukul 07.00 hingga 14.30 dan dihadiri oleh Bapak/Ibu Guru MTsN 2 Bantul.

Dalam sambutannya, Musa Surahman,  selaku Kepala Madrasah, menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka diberikan sebagai opsi bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. “Kebijakan implementasi kurikulum merdeka pada madrasah diatur oleh Kementerian Agama, dengan dilakukan adaptasi sesuai dengan pengembangan kekhasan nilai-nilai madrasah dan kebutuhan pembelajaran di madrasah,” ungkapnya.

Berikutnya, dalam sambutan yang diberikan oleh Ahmad Musyadad, selaku Kasi Dikmad, menjelaskan mengenai mekanisme pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Madrasah. “Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu melakukan persiapan seperti yang sedang kita lakukan saat ini,” ujarnya. “Kemudian, jika Madrasah telah melakukan persiapan-persiapan, Langkah berikutnya yaitu menyusun dan mengembangkan kurikulum operasional Madrasah sesuai visi, misi, tujuan, dan kekhasan madrasah,” jelasnya.

Sesi selanjutnya dalam acara ini adalah pemaparan perangkat pembelajaran yang meliputi CP, TP, ATP dan Modul oleh Darsiti sebagai narasumber. Dengan gamblang beliau menjelaskan mengenai cara menggunakan CP dalam merancang pembelajaran di kelas. “Hal-hal yang harus dilakukan adalah berkolaborasi dengan guru 1 fase, menurunkan CP menjadi tujuan-tujuan pembelajaran dengan tingkat kesulitan materi yang berjenjang sehingga membetuk satu alur,” paparnya. “Setelah itu, kita kembangkan TP yang sudah  mencakup aspek sikap,pengetahuan, dan keterampilan, beserta materi/konten inti. Kemudian merangkai  tujuan-tujuan  pembelajaran     dalam  satu  alur  dengan mempertimbangkan jenjang kedalaman materi, jenjang cakupan, dan jenjang kesulitannya,” lanjutnya menjelaskan.

Sesi terakhir dipandu oleh Etyk Nurhayati yang menjelaskan mengenai Asesment Penilaian. Sesi ini diawali dengan ice breaking yang cukup seru untuk mencairkan suasana. Sesi ini mengupas mengenai jenis dan bentuk penilaian hasil belajar peserta didik. “Hal penting pada kurikulum ini, guru diharapkan memberikan proporsi lebih banyak pada pelaksanaan asesmen formatif daripada menitikberatkan orientasi pada asesmen sumatif,” jelasnya. “Harapannya, ini akan mendukung proses penanaman kesadaran bahwa proses lebih penting daripada sebatas hasil akhir,” ungkapnya melanjutkan. (nfa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.