Guru MTsN 2 Bantul dalam workshop Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris. (dok:agt)

Guru MTsN 2 Bantul dalam workshop Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris. (dok:agt)

Bantul (MTsN 2 Bantul) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Inggris SMP Kabupaten Bantul bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga (Dikpora) Kabupaten Bantul menyelenggarakan kegiatan ”Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Inggris Kelas IX Untuk Menghadapi ASPD”. Kegiatan diadakan Selasa (7/2) di SMP 1 Jetis Bantul. Peserta workshop adalah guru bahasa Inggris kelas IX baik SMP/MTs Negeri maupun swasta se-Kabupaten Bantul kurang lebih 125 orang. Hadir sebagai narasumber adalah Dr (Cand) Laily Amin Fajariyah, penulis soal dan guru berprestasi & peraih Beasiswa LPDP. Ia mengajar di SMP Negeri 5 Panggang Gunungkidul.

Joko Sulistyo, ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Bantul, dalam sambutannya menyampaikan tujuan pelaksanaan kegiatan ini. “Tujuan dari kegiatan workshop ini adalah untuk meningkatkan nilai ASPD. Dari empat mata pelajaran yang diujikan, ternyata Bahasa Inggris mengalami penurunan, sehingga kita punya kewajiban moral untuk meningkatkan diri agar lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya. “Harapan kami setelah mengikuti kegiatan ini ending-nya nanti nilai ASPD mapel Bahasa Inggris bisa meningkat, jika tidak ranking satu paling tidak ranking kedua, terkait agenda berikutnya adalah bedah kisi,” imbuhnya.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dikpora Bantul, Retno Yuliastuti memberikan motivasi dalam acara ini. “Guru adalah salah satu penghimpun prestasi di DIY, maka indikator untuk tahun 2023-2024 adalah meningkatkan nilai ASPD di SD dan SMP karena parameternya masih nilai ASPD. Capaian rerata kabupaten Bantul tahun 2022 posisi ketiga di DIY, maka pentingnya persiapan guru-guru kelas IX menghadapi ASDA agar meningkat rerata nilai kabupaten Bantul,” ungkap Retno.

“Informasi dari Dikpora Bantul Try Out 2 (27-28 Februari hingga 1-2 Maret) akan dianalisis, selanjutnya akan di-treatment rerata yg terbaik atas dan rerata bawah. Gurunya akan dipanggil untuk mengerjakan soal yang sama bersama dengan siswa. Diknas harus bersinergi dengan MGMP. Harapan besar ada pada MGMP untuk peningkatan rerata ASPD mendatang,” pungkasnya.

Kegiatan workshop dibagi dalam dua sesi, sesi pertama adalah pemaparan terkait metode dan teknis pembelajaran bahasa Inggris. Laily menyampaikan metode dan teknis pembelajaran dengan jelas dan menarik terkadang diselingi dengan joke-joke yang membuat peserta tidak bosan. “Agar pembelajaran di kelas menarik diawali dengan mengetahui karakter anak lebih dalam, selanjutnya plan a lesson (merancang pembelajaran), mengembangkan tugas yang berbeda (developing differentiated tasks (if needed) and media) bisa dengan memakai Canva agar lebih menarik, administer assessment that makes students “grow” (not only AoL), let the students show their ability and be proud of it, and let the students reflect on their learning,” ungkap Lely.

Sesi kedua Lely menyampaikan trik dan tips mengerjakan soal High Order Thinking Skills (HOTS) menghadapi ASPD. Sesi diawali dengan ice breaking untuk menghilangkan kejenuhan, bapak ibu guru berjoget bersama mengikuti instruktur dalam video. Selanjutnya Lely mengawali pemaparan dengan menampilkan Taksonomi Bloom (revised by Anderson) meliputi tiga domain, yaitu, ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Bloom membagi kemampuan tingkat berpikir atau kognitif menjadi 6 tingkat, mengingat, memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta. Semua materi bisa disampaikan menggunakan taksonomi Bloom.

Selanjutnya ia juga menampilkan taksonomi Barret yang digunakan khusus untuk menyampaikan materi Reading Comprehension. Terkait soal HOTS, Lely mengatakan bahwa soal HOTS digaungkan pertama kali tahun 2013 dan mulai diterapkan pada tahun 2018. “Soal HOTS menurut sebagian orang identik dengan soal sulit padahal sesungguhnya tidak demikian. Dikatakan soal HOTS dikarenakan panjangnya teks yang ditampilkan (the length of text), kata-kata yang sulit, dan bentuk soal yang bermacam-macam (unfamiliar stem),” ujarnya. Selanjutnya Lely memberikan trik-trik menjawab soal HOTS.

Agustina berharap setelah ikut workshop ini, dirinya bisa menerapkan metode, trik dan tips dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas sehingga pembelajaran bisa menarik dan siswa mampu menjawab soal-soal HOTS dengan benar. (Agt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.